
Perusahaan multinasional yang berkantor pusat di UEA terkejut pada 31 Januari ketika konsulat Saudi di seluruh Teluk secara diam-diam menolak, menunda, atau membatalkan permohonan visa bisnis yang diajukan dari Uni Emirat Arab. Gangguan ini, yang pertama kali dilaporkan oleh Financial Times, terjadi setelah hubungan politik memburuk tajam setelah Riyadh menuduh Abu Dhabi mendukung faksi separatis Yaman pada bulan Desember.
Dalam pekan terakhir saja, bank, konsultan, dan perusahaan jasa energi melaporkan puluhan permohonan visa yang ditolak atau tidak mendapat jawaban, memaksa para eksekutif untuk melewati jalur Qatar dan Bahrain atau masuk ke kerajaan dengan visa turis jangka pendek.
Waktu kejadian ini sangat tidak menguntungkan. Sejak 2024, Arab Saudi mewajibkan perusahaan asing memindahkan kantor regional mereka ke Riyadh agar memenuhi syarat kontrak pemerintah. Penolakan visa ini menghambat studi kelayakan, peluncuran proyek, dan audit kepatuhan yang bergantung pada spesialis berbasis UEA yang sering bepergian melintasi perbatasan. Beberapa perusahaan menduga ini adalah taktik “carrot and stick” untuk mempercepat relokasi.
Pejabat Saudi menegaskan tidak ada perubahan resmi pada aturan masuk, dan menunjukkan adanya pelonggaran penundaan dalam beberapa hari terakhir. Namun, pengacara imigrasi memperingatkan bahwa mengandalkan visa turis berisiko denda atau deportasi jika karyawan ketahuan bekerja. Manajer risiko menyarankan para pelancong membawa surat undangan, bukti pemesanan hotel, dan bukti perjalanan lanjutan untuk mempercepat proses wawancara di imigrasi Saudi.
Bagi perusahaan yang berbasis di UEA, kejadian ini menjadi peringatan untuk tidak terlalu bergantung pada mobilitas bebas hambatan di Teluk. Rencana darurat yang sedang dibahas meliputi penugasan staf kunci ke Riyadh untuk jangka waktu lebih lama, merekrut warga Saudi untuk proyek tertentu, dan menambah unit khusus pengurusan visa di bagian HR. Dalam jangka menengah, perusahaan mungkin akan mempertimbangkan kembali lokasi pusat regional mereka: UEA masih menawarkan gaya hidup dan keuntungan logistik yang tak tertandingi, tetapi biaya akibat terganggunya akses ke Saudi mulai meningkat.
Dalam pekan terakhir saja, bank, konsultan, dan perusahaan jasa energi melaporkan puluhan permohonan visa yang ditolak atau tidak mendapat jawaban, memaksa para eksekutif untuk melewati jalur Qatar dan Bahrain atau masuk ke kerajaan dengan visa turis jangka pendek.
Waktu kejadian ini sangat tidak menguntungkan. Sejak 2024, Arab Saudi mewajibkan perusahaan asing memindahkan kantor regional mereka ke Riyadh agar memenuhi syarat kontrak pemerintah. Penolakan visa ini menghambat studi kelayakan, peluncuran proyek, dan audit kepatuhan yang bergantung pada spesialis berbasis UEA yang sering bepergian melintasi perbatasan. Beberapa perusahaan menduga ini adalah taktik “carrot and stick” untuk mempercepat relokasi.
Pejabat Saudi menegaskan tidak ada perubahan resmi pada aturan masuk, dan menunjukkan adanya pelonggaran penundaan dalam beberapa hari terakhir. Namun, pengacara imigrasi memperingatkan bahwa mengandalkan visa turis berisiko denda atau deportasi jika karyawan ketahuan bekerja. Manajer risiko menyarankan para pelancong membawa surat undangan, bukti pemesanan hotel, dan bukti perjalanan lanjutan untuk mempercepat proses wawancara di imigrasi Saudi.
Bagi perusahaan yang berbasis di UEA, kejadian ini menjadi peringatan untuk tidak terlalu bergantung pada mobilitas bebas hambatan di Teluk. Rencana darurat yang sedang dibahas meliputi penugasan staf kunci ke Riyadh untuk jangka waktu lebih lama, merekrut warga Saudi untuk proyek tertentu, dan menambah unit khusus pengurusan visa di bagian HR. Dalam jangka menengah, perusahaan mungkin akan mempertimbangkan kembali lokasi pusat regional mereka: UEA masih menawarkan gaya hidup dan keuntungan logistik yang tak tertandingi, tetapi biaya akibat terganggunya akses ke Saudi mulai meningkat.
Sumber: Financial Times