
Musim panas 2026 di Italia semakin memanas dengan aksi mogok transportasi yang melibatkan tiga operator kereta utama negara itu—Ferrovie dello Stato Italiane (Trenitalia, RFI) milik negara, operator kereta cepat swasta Italo-NTV, dan operator regional Trenord. Ketiganya menghentikan layanan selama 24 jam mulai pukul 21:00 pada Kamis, 23 Juli hingga pukul 20:59 pada Jumat, 24 Juli. Serikat pekerja FILT-Cgil, Fit-Cisl, UIL-Trasporti, dan Orsa Rail menuntut kelanjutan negosiasi upah yang mandek serta penambahan staf, yang menurut mereka makin parah akibat lonjakan perjalanan pasca pandemi.
Menurut hukum Italia, layanan minimum “servizi essenziali” harus tetap dijamin. Trenitalia merilis daftar kereta Intercity dan Frecciarossa yang tetap beroperasi, sementara operator regional menjanjikan layanan terbatas pada jam sibuk. Namun, RFI memperingatkan kemungkinan pembatalan, keterlambatan, dan perubahan rute mendadak di seluruh jaringan, termasuk layanan shuttle Leonardo Express antara Roma Termini dan bandara Fiumicino. Kereta barang juga terdampak, yang berpotensi mengganggu rantai pasok bagi produsen yang mengandalkan pengiriman tepat waktu.
Para pelaku bisnis menghadapi tantangan langsung. Perusahaan dengan program mobilitas disarankan mengaktifkan rencana darurat seperti mengalihkan staf ke penerbangan domestik atau mengatur transportasi darat. Perusahaan manajemen perjalanan melaporkan lonjakan permintaan sewa mobil dan charter bus mendadak hingga 180% dibandingkan minggu sebelumnya. Hotel di sekitar Milan dan bandara Roma bersiap menerima lonjakan pemesanan “darurat” dari penumpang yang terdampar.
Bagi manajer mobilitas global dan relokasi, mogok ini menegaskan pentingnya pemantauan real-time atas tanggung jawab perusahaan terhadap keselamatan karyawan. Karyawan yang datang ke Italia untuk penugasan jangka pendek mungkin perlu menganggarkan waktu perjalanan tambahan atau menginap, sementara pemberitahuan pekerja yang dikirim dari luar negeri (Posted-Workers) yang menyebutkan lokasi kerja bisa terdampak jika staf tidak bisa mencapai tempat kerja secara fisik. Perusahaan disarankan mendokumentasikan setiap keterlambatan agar tidak melanggar aturan posting atau kondisi visa yang terkait dengan tanggal mulai kontrak.
Meskipun mogok kereta adalah hal yang biasa dalam hubungan industrial di Italia, skala aksi kali ini—yang mencakup layanan kereta cepat, regional, dan komuter di puncak musim wisata—terbilang luar biasa. Serikat pekerja bahkan mengancam akan melanjutkan mogok pada Agustus jika negosiasi dengan Kementerian Transportasi tidak membuahkan hasil, sehingga para pemangku kepentingan mobilitas disarankan memantau perkembangan perundingan dengan seksama.
Menurut hukum Italia, layanan minimum “servizi essenziali” harus tetap dijamin. Trenitalia merilis daftar kereta Intercity dan Frecciarossa yang tetap beroperasi, sementara operator regional menjanjikan layanan terbatas pada jam sibuk. Namun, RFI memperingatkan kemungkinan pembatalan, keterlambatan, dan perubahan rute mendadak di seluruh jaringan, termasuk layanan shuttle Leonardo Express antara Roma Termini dan bandara Fiumicino. Kereta barang juga terdampak, yang berpotensi mengganggu rantai pasok bagi produsen yang mengandalkan pengiriman tepat waktu.
Para pelaku bisnis menghadapi tantangan langsung. Perusahaan dengan program mobilitas disarankan mengaktifkan rencana darurat seperti mengalihkan staf ke penerbangan domestik atau mengatur transportasi darat. Perusahaan manajemen perjalanan melaporkan lonjakan permintaan sewa mobil dan charter bus mendadak hingga 180% dibandingkan minggu sebelumnya. Hotel di sekitar Milan dan bandara Roma bersiap menerima lonjakan pemesanan “darurat” dari penumpang yang terdampar.
Bagi manajer mobilitas global dan relokasi, mogok ini menegaskan pentingnya pemantauan real-time atas tanggung jawab perusahaan terhadap keselamatan karyawan. Karyawan yang datang ke Italia untuk penugasan jangka pendek mungkin perlu menganggarkan waktu perjalanan tambahan atau menginap, sementara pemberitahuan pekerja yang dikirim dari luar negeri (Posted-Workers) yang menyebutkan lokasi kerja bisa terdampak jika staf tidak bisa mencapai tempat kerja secara fisik. Perusahaan disarankan mendokumentasikan setiap keterlambatan agar tidak melanggar aturan posting atau kondisi visa yang terkait dengan tanggal mulai kontrak.
Meskipun mogok kereta adalah hal yang biasa dalam hubungan industrial di Italia, skala aksi kali ini—yang mencakup layanan kereta cepat, regional, dan komuter di puncak musim wisata—terbilang luar biasa. Serikat pekerja bahkan mengancam akan melanjutkan mogok pada Agustus jika negosiasi dengan Kementerian Transportasi tidak membuahkan hasil, sehingga para pemangku kepentingan mobilitas disarankan memantau perkembangan perundingan dengan seksama.