
Maskapai hibrida berbasis di Roma, Aeroitalia, merilis hasil sembilan bulan pada 1 Desember yang mengonfirmasi posisinya sebagai maskapai dengan pertumbuhan tercepat di Italia selain ITA Airways milik negara. Dari Januari hingga September, maskapai ini mengoperasikan 18.764 penerbangan—naik 24% dibanding tahun sebelumnya—mengangkut 2,48 juta penumpang dengan tingkat keterisian rata-rata 79%. Pendapatan meningkat 25% menjadi €216,8 juta, sementara EBITDA mencapai €17,1 juta, menurut laporan Teleborsa.
Manajemen mengaitkan keberhasilan ini dengan diversifikasi jaringan: rute domestik utama seperti Milan Linate–Bari menunjukkan performa kuat, sementara layanan musiman baru ke Tirana dan Bucharest juga berhasil mengisi kursi. Pendapatan tambahan per penumpang naik 12% menjadi €66,59, mencerminkan struktur tarif yang diperbarui dan peningkatan penjualan produk sewa mobil serta lounge.
Bagi perencana mobilitas dan relokasi, ekspansi Aeroitalia memperluas opsi penerbangan langsung di dalam Italia, tepat saat kapasitas kereta cepat di koridor utara-selatan utama mulai jenuh. Namun, pertumbuhan cepat ini juga menguji ketahanan operasional; maskapai mengalami tingkat pembatalan penerbangan 2,8% selama gelombang panas Agustus, yang memicu pengawasan dari Otoritas Penerbangan Sipil (ENAC) terhadap penjadwalan kru.
CEO Aeroitalia, Marc Bourgade, menyatakan perusahaan berada di jalur yang tepat untuk mencapai target tiga juta penumpang pada 2025 dan akan mengumumkan tambahan pesawat sewaan B737-MAX pada kuartal pertama 2026. Maskapai ini juga mencari mitra codeshare untuk mengisi kekosongan di Eropa utara, yang akan semakin mengintegrasikan kota-kota sekunder Italia ke dalam program perjalanan bisnis global.
Jika tren positif ini berlanjut, Aeroitalia bisa menjadi alternatif yang layak untuk kontrak korporat yang saat ini didominasi oleh ITA, Ryanair, dan Wizz Air—berpotensi menekan tarif kelas bisnis di Italia pada musim panas mendatang.
Manajemen mengaitkan keberhasilan ini dengan diversifikasi jaringan: rute domestik utama seperti Milan Linate–Bari menunjukkan performa kuat, sementara layanan musiman baru ke Tirana dan Bucharest juga berhasil mengisi kursi. Pendapatan tambahan per penumpang naik 12% menjadi €66,59, mencerminkan struktur tarif yang diperbarui dan peningkatan penjualan produk sewa mobil serta lounge.
Bagi perencana mobilitas dan relokasi, ekspansi Aeroitalia memperluas opsi penerbangan langsung di dalam Italia, tepat saat kapasitas kereta cepat di koridor utara-selatan utama mulai jenuh. Namun, pertumbuhan cepat ini juga menguji ketahanan operasional; maskapai mengalami tingkat pembatalan penerbangan 2,8% selama gelombang panas Agustus, yang memicu pengawasan dari Otoritas Penerbangan Sipil (ENAC) terhadap penjadwalan kru.
CEO Aeroitalia, Marc Bourgade, menyatakan perusahaan berada di jalur yang tepat untuk mencapai target tiga juta penumpang pada 2025 dan akan mengumumkan tambahan pesawat sewaan B737-MAX pada kuartal pertama 2026. Maskapai ini juga mencari mitra codeshare untuk mengisi kekosongan di Eropa utara, yang akan semakin mengintegrasikan kota-kota sekunder Italia ke dalam program perjalanan bisnis global.
Jika tren positif ini berlanjut, Aeroitalia bisa menjadi alternatif yang layak untuk kontrak korporat yang saat ini didominasi oleh ITA, Ryanair, dan Wizz Air—berpotensi menekan tarif kelas bisnis di Italia pada musim panas mendatang.