
Sebagai sinyal lanjutan bahwa Hong Kong sedang membangun kembali perannya sebagai pusat transit regional, Departemen Imigrasi Wilayah Administratif Khusus Hong Kong (HKSAR) mengumumkan pada 14 November bahwa mulai 15 November 2025, warga Nepal dapat transit di bandara internasional kota ini tanpa visa, asalkan mereka tetap berada di area transit yang aman dan melanjutkan penerbangan pada hari yang sama.
Kebijakan baru ini sengaja dibuat terbatas—hanya mencakup koneksi antar bandara dan tidak termasuk masuk ke wilayah Hong Kong—namun menghilangkan satu lapisan hambatan administratif untuk pasar Asia Selatan yang berkembang pesat. Sebelumnya, penumpang Nepal harus mengurus "visa transit" meskipun tidak keluar dari zona steril, proses yang bisa memakan waktu hingga empat minggu dan biaya HK $230. Penghapusan visa ini tentu menghemat waktu dan biaya bagi perjalanan dari Kathmandu ke tujuan jarak jauh di Amerika Utara, Eropa, atau Australasia yang melewati Hong Kong.
Para pejabat menyatakan langkah ini sebagai bagian dari inisiatif Belt and Road yang bertujuan meningkatkan konektivitas jaringan. Bandara Internasional Hong Kong melayani 29 juta penumpang dalam sembilan bulan pertama 2025—masih di bawah puncak 2019 sebanyak 75 juta, tapi sudah dua kali lipat dari angka 2024. Data Otoritas Bandara menunjukkan lalu lintas transfer Asia Selatan pulih paling cepat, naik 260% secara tahunan, terutama didorong oleh arus pekerja migran dan bisnis yang kuat. Maskapai seperti Cathay Pacific dan Nepal Airlines diperkirakan akan agresif memasarkan tarif langsung setelah aturan ini berlaku.
Bagi manajer mobilitas global, perubahan ini memberikan opsi rute baru bagi karyawan dan tim proyek yang berpindah antara Asia Selatan dan Greater China. Para pelancong tetap harus memenuhi persyaratan masuk tujuan akhir mereka, dan penghapusan visa ini tidak berlaku bagi warga Nepal yang ingin masuk Hong Kong untuk pertemuan atau transit lebih dari 24 jam. Untuk tujuan tersebut, visa kunjungan standar masih diperlukan dengan waktu proses enam hingga delapan minggu.
Perusahaan disarankan memperbarui platform pemesanan perjalanan mereka untuk menandai koneksi yang lebih efisien ini dan mengingatkan karyawan bahwa bebas visa hanya berlaku jika mereka tetap di area udara. Perusahaan dengan tenaga kerja Asia Selatan yang besar—terutama di sektor konstruksi, pelayaran, dan perhotelan—mungkin akan menemukan rute Hong Kong kini lebih kompetitif dibanding Kuala Lumpur atau Singapura untuk perjalanan yang sensitif terhadap biaya.
Kebijakan baru ini sengaja dibuat terbatas—hanya mencakup koneksi antar bandara dan tidak termasuk masuk ke wilayah Hong Kong—namun menghilangkan satu lapisan hambatan administratif untuk pasar Asia Selatan yang berkembang pesat. Sebelumnya, penumpang Nepal harus mengurus "visa transit" meskipun tidak keluar dari zona steril, proses yang bisa memakan waktu hingga empat minggu dan biaya HK $230. Penghapusan visa ini tentu menghemat waktu dan biaya bagi perjalanan dari Kathmandu ke tujuan jarak jauh di Amerika Utara, Eropa, atau Australasia yang melewati Hong Kong.
Para pejabat menyatakan langkah ini sebagai bagian dari inisiatif Belt and Road yang bertujuan meningkatkan konektivitas jaringan. Bandara Internasional Hong Kong melayani 29 juta penumpang dalam sembilan bulan pertama 2025—masih di bawah puncak 2019 sebanyak 75 juta, tapi sudah dua kali lipat dari angka 2024. Data Otoritas Bandara menunjukkan lalu lintas transfer Asia Selatan pulih paling cepat, naik 260% secara tahunan, terutama didorong oleh arus pekerja migran dan bisnis yang kuat. Maskapai seperti Cathay Pacific dan Nepal Airlines diperkirakan akan agresif memasarkan tarif langsung setelah aturan ini berlaku.
Bagi manajer mobilitas global, perubahan ini memberikan opsi rute baru bagi karyawan dan tim proyek yang berpindah antara Asia Selatan dan Greater China. Para pelancong tetap harus memenuhi persyaratan masuk tujuan akhir mereka, dan penghapusan visa ini tidak berlaku bagi warga Nepal yang ingin masuk Hong Kong untuk pertemuan atau transit lebih dari 24 jam. Untuk tujuan tersebut, visa kunjungan standar masih diperlukan dengan waktu proses enam hingga delapan minggu.
Perusahaan disarankan memperbarui platform pemesanan perjalanan mereka untuk menandai koneksi yang lebih efisien ini dan mengingatkan karyawan bahwa bebas visa hanya berlaku jika mereka tetap di area udara. Perusahaan dengan tenaga kerja Asia Selatan yang besar—terutama di sektor konstruksi, pelayaran, dan perhotelan—mungkin akan menemukan rute Hong Kong kini lebih kompetitif dibanding Kuala Lumpur atau Singapura untuk perjalanan yang sensitif terhadap biaya.
Sumber: People’s Daily / Xinhua
Bagaimana VisaHQ dapat membantu
VisaHQ menyederhanakan proses pengajuan visa bagi perorangan dan perusahaan. Periksa persyaratan perjalanan terkini, siapkan dokumen yang diperlukan, dan kelola pengajuan Anda secara online melalui portal VisaHQ untuk Republik Rakyat Cina.Lebih Banyak Dari Republik Rakyat Cina
Lihat semua
China memperpanjang kebijakan bebas visa sepihak hingga akhir 2026 dan menambahkan Swedia
Air China Cargo pesan enam pesawat kargo Airbus A350F untuk dorong logistik lebih ramah lingkungan