
Dalam revisi besar-besaran aturan penahanan yang dirilis pada 16 Juni malam, U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) mengizinkan kontraktor penjara swasta dan penjara kabupaten untuk menerapkan standar operasional yang jauh lebih longgar. Arahan sepanjang 202 halaman ini memperbolehkan fasilitas menggunakan alat terjemahan AI generatif untuk interaksi “non-kritis” dengan migran, menghapus kewajiban operator membayar lebih dari tunjangan harian $1 yang sudah lama berlaku untuk program kerja tahanan, serta melarang mereka menolak individu yang dipilih ICE untuk ditempatkan di bawah pengawasan mereka. ICE menyatakan perubahan ini akan “mengurangi beban bagi operator penahanan,” namun para pengawas memperingatkan hal ini justru akan memperburuk kondisi yang sudah bermasalah. Para ahli medis yang diwawancarai Associated Press mencatat bahwa aturan baru memungkinkan skrining kesehatan dilakukan melalui antarmuka AI, yang menimbulkan kekhawatiran akan krisis kesehatan mental dan penyakit menular yang terlewat. Mantan ombudsman DHS, Michelle Brané, menyebut langkah ini sebagai “mundur dari akuntabilitas di saat Kongres justru memberikan dana rekor kepada agensi ini.” Kontraktor seperti GEO Group dan CoreCivic, yang menampung sekitar 60.000 tahanan imigrasi setiap hari, akan mendapat keuntungan. Bahasa revisi ini memperjelas bahwa tahanan bukanlah “karyawan,” yang berpotensi melemahkan gugatan pencurian upah bernilai jutaan dolar yang sedang berjalan di beberapa pengadilan federal. Aturan ini juga membekukan tunjangan harian $1 dan menghapus mandat interpretasi langsung, memungkinkan fasilitas mengandalkan terjemahan mesin yang lebih murah. Bagi perusahaan multinasional, dampak praktisnya dua arah: kapasitas penahanan yang lebih besar berarti transfer dari sel penahanan perbatasan bisa lebih cepat—namun juga meningkatkan kemungkinan karyawan asing yang tertangkap dalam tindakan penegakan hukum akan ditahan di pusat yang dikelola swasta dengan pengawasan yang berkurang. Manajer mobilitas sebaiknya meninjau kebijakan tanggung jawab, memastikan hotline darurat tetap dapat menghubungi tahanan di bawah rezim AI baru, dan menganggarkan kemungkinan intervensi hukum swasta jika muncul masalah kesehatan atau keselamatan. Dalam jangka panjang, aturan ini menandakan ICE akan menyelaraskan standar penahanan sipilnya dengan U.S. Marshals Service. Perusahaan yang memindahkan staf melintasi perbatasan AS harus mempertimbangkan kemungkinan penahanan sipil yang lebih lama—dan mungkin lebih keras—jika terjadi masalah dokumen, terutama bagi pekerja sementara dan pelancong bisnis dari negara bebas visa.
Sumber: The Washington Post (via AP)