
Layanan pengiriman rantai dingin khusus yang menghubungkan Thailand, Vietnam, dan Tiongkok barat daya memulai debut komersialnya pada 19 Juni ketika sebuah kereta yang membawa durian dari Thailand dan kelapa dari Vietnam tiba di Pelabuhan Kereta Internasional Nanning di Guangxi. Perjalanan ini menandai peluncuran kampanye “Buah ASEAN Berkumpul di Guangxi” yang dirancang untuk memangkas waktu pengiriman barang mudah rusak dari berhari-hari menjadi kurang dari 30 jam. Layanan ini menggunakan kontainer berpendingin yang dipasang pada EMU kargo dengan kecepatan 120 km/jam, sebuah inovasi pertama untuk koridor Tiongkok-Laos-Thailand. Departemen Perdagangan Guangxi mengonfirmasi penandatanganan nota kesepahaman pengadaan jangka panjang senilai RMB 4,6 miliar (US$630 juta) dengan importir di Shanghai dan Chengdu, menunjukkan tingginya permintaan konsumen terhadap produk tropis. Bagi para pengelola mobilitas global dan rantai pasok, kereta ini menawarkan opsi multimoda baru yang menghindari kemacetan laut yang saat ini terjadi pada kargo berpendingin di terminal Yantian, Shenzhen. Bea cukai Tiongkok telah menerapkan inspeksi “jalur hijau” selama satu jam dan pra-pembersihan dokumen elektronik untuk pengirim terpercaya, kebijakan yang kemungkinan akan diperluas ke produk makanan jadi dan farmasi akhir tahun ini. Para ahli logistik mencatat bahwa jalur kereta rantai dingin yang stabil menuju Tiongkok tengah mengurangi kebutuhan charter kargo udara yang mahal selama musim buah puncak. Peritel seperti Hema Fresh dan Walmart China sudah memesan ruang pada keberangkatan mingguan hingga September, berharap mendapatkan keuntungan sebagai pelopor di segmen buah premium dengan margin tinggi. Selain kebutuhan bahan makanan, proyek ini menjadi indikator penting bagi varian penumpang China–ASEAN Rail Express yang direncanakan bisa beroperasi secepatnya pada 2027, yang nantinya akan memudahkan perjalanan bisnis satu hari antara Kunming dan Bangkok.
Sumber: China Daily