
Kurang dari lima hari menjelang libur Hari Buruh, Sekretaris Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Rosanna Law mengumumkan operasi penegakan hukum besar-besaran yang melibatkan 18 lembaga untuk memberantas praktik buruk dalam kelompok tur. Dalam siaran di radio RTHK, Law menyatakan bahwa para inspeksi dari Otoritas Industri Perjalanan (TIA) akan melakukan pemeriksaan mendadak pada bus wisata, toko perhiasan, dan apotek yang dikenal melakukan penjualan dengan sistem komisi tersembunyi. Pemandu wisata tanpa izin berisiko langsung diskors dan didenda hingga HK$100.000, sementara toko yang memaksa wisatawan membeli barang akan dicabut izinnya. Penindakan ini merupakan respons langsung terhadap lonjakan 30 persen panggilan pengaduan tahun ini, banyak di antaranya berasal dari pengunjung pertama kali dari kota-kota kecil di daratan yang belum familiar dengan aturan perlindungan konsumen di Hong Kong. Pihak berwenang juga akan menempatkan petugas penyamar di kawasan perbelanjaan populer seperti Tsim Sha Tsui dan To Kwa Wan. Selain merusak reputasi, tur belanja paksa juga berdampak finansial bagi perusahaan multinasional yang mengelola perjalanan insentif dan relokasi ekspatriat. “Jika staf merasa tidak aman atau tertekan untuk berbelanja, perusahaan akan memindahkan pertemuan ke Singapura atau Bangkok,” peringat Martina Ko, manajer mobilitas regional di perusahaan logistik Fortune 500. TIA telah membuat dasbor waktu nyata yang mengumpulkan pengaduan dari pusat panggilan 1823 dan saluran pelaporan WhatsApp baru, memungkinkan pemetaan tren cepat terkait pedagang tertentu. Asosiasi industri menyambut baik pendekatan berbasis data ini, namun mendesak reformasi jangka panjang seperti penerapan struk QR-code wajib yang dapat dipindai wisatawan untuk memverifikasi harga sesuai standar ritel. Law meyakini penegakan hukum yang kredibel sangat penting untuk mendukung pemulihan Hong Kong pasca pandemi: “Golden Week bukan hanya keuntungan sesaat; ini adalah ujian apakah kita layak menjadi destinasi belanja paling terpercaya di Asia.”
Sumber: South China Morning Post