
Ratusan ekspatriat India mengantre di luar Konsulat Jenderal India di Dubai pada Jumat malam setelah misi tersebut mengambil alih kembali pengurusan paspor, visa, dan legalisasi dokumen menyusul sengketa kontrak yang menghambat rencana penyerahan layanan kepada penyedia baru, Alhind Tours & Travels. Pengaturan sementara ini—penanganan langsung pertama layanan konsuler India di UAE dalam 15 tahun terakhir—akan tetap berlaku “sampai pemberitahuan lebih lanjut,” kata para pejabat.
Perubahan yang terjadi. Kontrak outsourcing dengan BLS International (paspor) dan SGIVS Global Services (legalisasi) berakhir pada 30 Juni. Perintah pengadilan tinggi Delhi terkait tender menunda aktivasi Alhind, sehingga terjadi kekosongan layanan di puncak musim liburan musim panas. Untuk mencegah penumpukan, Kedutaan di Abu Dhabi dan Konsulat di Dubai beralih ke sistem walk-in dengan prinsip siapa cepat dia dapat mulai 2 Juli, beroperasi setiap hari pukul 09:00-12:30. Pada hari kedua, Konsulat memproses lebih dari 800 aplikasi dan melayani 1.400 pengunjung, dengan tambahan tenda, kipas kabut, dan ruang menyusui untuk mengatur antrean di tengah suhu 40 °C.
Dampak bisnis. Warga India merupakan sekitar 28% dari tenaga kerja di UAE; gangguan dalam perpanjangan paspor atau surat pembatalan visa dapat menunda proses onboarding, penggajian, dan perjalanan bagi ribuan perusahaan. Perusahaan disarankan menyediakan waktu minimal 10 hari kerja untuk layanan paspor selama masa transisi ini dan memantau peluncuran Alhind agar tidak terjadi penjadwalan ganda.
Penghematan biaya. Banyak pemohon menyambut baik pengaturan sementara ini karena biaya pemerintah lebih rendah dibandingkan tarif di “premium lounge” outsourcing. Namun, perusahaan yang mengandalkan pengambilan kurir dan layanan di luar jam kerja harus mengirimkan PRO (petugas hubungan masyarakat) langsung ke misi sampai layanan tambahan outsourcing kembali beroperasi.
Langkah selanjutnya. Kedutaan telah membuka loket pop-up akhir pekan di Sharjah dan Fujairah untuk mengatasi antrean. Sumber hukum di New Delhi memperkirakan pengadilan akan memutuskan tender Alhind dalam dua minggu ke depan, setelah itu pusat outsourcing bisa mulai beroperasi dengan SLA yang direvisi. Manajer mobilitas korporat disarankan memantau prosedur pemesanan token terbaru dan penyesuaian harga saat model outsourcing kembali berjalan.
Perubahan yang terjadi. Kontrak outsourcing dengan BLS International (paspor) dan SGIVS Global Services (legalisasi) berakhir pada 30 Juni. Perintah pengadilan tinggi Delhi terkait tender menunda aktivasi Alhind, sehingga terjadi kekosongan layanan di puncak musim liburan musim panas. Untuk mencegah penumpukan, Kedutaan di Abu Dhabi dan Konsulat di Dubai beralih ke sistem walk-in dengan prinsip siapa cepat dia dapat mulai 2 Juli, beroperasi setiap hari pukul 09:00-12:30. Pada hari kedua, Konsulat memproses lebih dari 800 aplikasi dan melayani 1.400 pengunjung, dengan tambahan tenda, kipas kabut, dan ruang menyusui untuk mengatur antrean di tengah suhu 40 °C.
Dampak bisnis. Warga India merupakan sekitar 28% dari tenaga kerja di UAE; gangguan dalam perpanjangan paspor atau surat pembatalan visa dapat menunda proses onboarding, penggajian, dan perjalanan bagi ribuan perusahaan. Perusahaan disarankan menyediakan waktu minimal 10 hari kerja untuk layanan paspor selama masa transisi ini dan memantau peluncuran Alhind agar tidak terjadi penjadwalan ganda.
Penghematan biaya. Banyak pemohon menyambut baik pengaturan sementara ini karena biaya pemerintah lebih rendah dibandingkan tarif di “premium lounge” outsourcing. Namun, perusahaan yang mengandalkan pengambilan kurir dan layanan di luar jam kerja harus mengirimkan PRO (petugas hubungan masyarakat) langsung ke misi sampai layanan tambahan outsourcing kembali beroperasi.
Langkah selanjutnya. Kedutaan telah membuka loket pop-up akhir pekan di Sharjah dan Fujairah untuk mengatasi antrean. Sumber hukum di New Delhi memperkirakan pengadilan akan memutuskan tender Alhind dalam dua minggu ke depan, setelah itu pusat outsourcing bisa mulai beroperasi dengan SLA yang direvisi. Manajer mobilitas korporat disarankan memantau prosedur pemesanan token terbaru dan penyesuaian harga saat model outsourcing kembali berjalan.
Sumber: Khaleej Times